“Saat itu pasti Minggu pagi, ketika sang kopral mengatakan pada kami untuk libur latihan. Usai berlibur, kami diperintahkan segera menyiapkan AK-47 kami berikut amunisi sebanyak mungkin. Kopral itu memberi kami ikat kepala hijau dan berkata, jika kami melihat seseorang tanpa ikat kepala dengan warna seperti itu, orang itu harus ditembak.
Seorang tentara muda datang dengan tas plastik penuh dengan berbagai macam tablet. Tablet itu tampak seperti kapsul, tapi warnanya putih rata. Ia menyodorkan tablet-tablet itu kepada kami. Kami menelan tablet itu. Dan kami pun siap bertempur.
Aku belum pernah setakut ini untuk pergi ke mana pun sepanjang hidupku. Air mata mulai menggenangi mataku, tapi aku berusaha memyembunyikannya dan menggengam senjataku agar merasa nyaman. Tak lama kemudian, terdengar ledakan yang diikuti dengan baku tembak antara kedua pihak. Aku tiarap dengan senapan teracung di depanku, tapi tak mampu menembak. Percikan darah mengenai wajahku. Darah dari tubuh tentara yang penuh dengan lubang bekas diterjang peluru.










